Kasus Keracunan MBG di Mojokerto, Kemenkes Investigasi Rantai Distribusi
![]() |
| Petugas dari Kemenkes melakukan pemeriksaan di dapur SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). |
MOJOKERTO, SuryaTribun.Com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerjunkan tim untuk menyelidiki keracunan makan bergizi gratis (MBG) massal di Mojokerto.
Selain memeriksa kelayakan SPPG, tim juga menelisik celah pada proses penyediaan MBG sehingga terjadi keracunan massal.
Tim dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Penanggulangan Penyakit Kemenkes awalnya menggali informasi di SMPN 2 Kutorejo, salah satu sekolah penerima MBG dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah.
Selanjutnya, mereka mendatangi SPPG di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo, Mojokerto tersebut. Pemeriksaan terhadap SPPG ini berlangsung beberapa jam, yakni sekitar pukul 12.00-16.00 WIB.
Tenaga Teknis Sanitasi Lingkungan Ditjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Izzi Ashari menilai, bangunan, tata letak ruangan SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah sudah bagus dan sesuai standar.
Menurutnya, banyak faktor yang bisa memicu keracunan pangan.
“Kami masih mempelajari celahnya ada di mana, apakah di penerimaan bahan baku, pemasakan, pendistribusian, atau di penerima manfaat di sekolah. Karena hasil labnya belum ada,” ujarnya kepada wartawan, Selasa, 13 Januari 2026.
Terkait penyimpanan MBG, kata Izzi, paling lama empat jam setelah dimasak harus sudah dikonsumsi para siswa selaku penerima manfaat.
Sebab, kata dia, di antara bermacam kandungan makanan, proteinlah yang paling cepat rusak atau kedaluarsa.
“Kalau ada suatu penyimpanan sesuai SOP, mungkin bisa lebih dari empat jam, misalnya di suhu minus. Kadang lalai dalam penyimpanannya tidak sesuai SOP dan lebih dari empat jam,” tuturnya.
Diketahui sebelumnya, ratusan pelajar, santri dan keluarga siswa keracunan diduga setelah menyantap MBG soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah.
MBG menu soto ayam tersebut dibagikan ke para pelajar dan santri pada Jumat siang, 09 Januari 2026.
Gejala klinis keracunan mulai dirasakan para pelajar dan santri pada Jumat malam dan Sabtu pagi, 10 Januari 2026.
Mereka tiba-tiba pusing, mual, muntah, demam dan diare. Per hari ini, jumlah korban mencapai 433 orang.
Dari jumlah itu, 293 korban sudah dipulangkan, 25 orang rawat jalan, serta 140 korban masih menjalani rawat inap di 11 faskes.
Investigasi gabungan digelar untuk mengungkap penyebab para pelajar dan santri mengalami keracunan massal.
Penyelidikan antara lain melibatkan Polres Mojokerto, Kodim 0815, Dinas Kesehatan, serta perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN).
Selain itu, selama investigasi, BGN juga menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo, Mojokerto.
Setiap harinya, SPPG yang operasi sejak 22 September 2025 ini menyediakan 2.679 porsi MBG.
Dapur MBG ini menyuplai makan bergizi gratis untuk 22 sekolah dan pondok pesantren di Kecamatan Kutorejo dan Mojosari.
SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah berpotensi disetop permanen apabila terbukti melanggar aturan. (*/red)
