Surya_tribun.com
0
Halal Bihalal Padepokan Kraton Wingit Prahu Kanjeng: Mimbar Seribu Tokoh Pererat Silaturahmi Lintas Daerah
Halal Bihalal Padepokan Kraton Wingit Prahu Kanjeng: Mimbar Seribu Tokoh Pererat Silaturahmi Lintas Daerah
MOJOKERTO, –Surya_tribun.com
Dalam suasana penuh kehangatan pasca Hari Raya Idul Fitri, Padepokan Kraton Wingit Prahu Kanjeng menggelar acara Halal Bihalal yang dirangkai dengan kegiatan bertajuk Mimbar Seribu Tokoh. Kegiatan ini berlangsung di kawasan bersejarah Jalan Candi Tikus, Kraton, Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (26/3/2026).
Momentum Halal Bihalal ini menjadi ruang sakral untuk saling memaafkan, mempererat tali silaturahmi, serta memperkuat ukhuwah lintas tokoh dan elemen masyarakat. Nuansa spiritual yang kental dalam kegiatan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
"…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22).
Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh dari Mojokerto dan sekitarnya, namun juga dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pegiat budaya dari sejumlah daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Kehadiran lintas wilayah ini semakin memperkuat makna kebersamaan dalam bingkai persaudaraan Nusantara.
Pendiri sekaligus pengasuh Padepokan Kraton Wingit Prahu Kanjeng, Gus IM, menegaskan bahwa Halal Bihalal merupakan momentum penyucian hati sekaligus ruang pemersatu lintas daerah.
“Alhamdulillah, dalam Mimbar Seribu Tokoh dan Halal Bihalal ini kita dipertemukan bukan hanya dari Mojokerto, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Ini menjadi bukti bahwa silaturahmi mampu melampaui batas wilayah, menyatukan hati dalam semangat persaudaraan dan kebangsaan,” ujarnya.
Sejumlah tokoh yang hadir juga turut menyampaikan pandangannya kepada Awak Media Salah satu tokoh masyarakat dari Jawa Tengah menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mempererat hubungan antar daerah.
“Kegiatan seperti ini sangat penting, bukan hanya sebagai tradisi pasca Lebaran, tetapi juga sebagai ruang memperkuat komunikasi lintas budaya dan daerah. Kami merasa terhormat bisa hadir dan menjadi bagian dari kebersamaan ini,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan tokoh budaya dari Jawa Timur menilai bahwa Mimbar Seribu Tokoh menjadi wadah yang mampu merawat kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
“Ini bukan sekadar pertemuan, tetapi juga upaya menjaga ruh budaya dan spiritualitas Nusantara. Di sinilah kita diingatkan untuk kembali pada nilai-nilai luhur,” tuturnya.
Tokoh agama yang turut hadir juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai bagian dari ajaran Islam.
“Halal Bihalal ini menjadi pengingat bahwa memaafkan dan menyambung silaturahmi adalah perintah agama yang membawa keberkahan, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial,” jelasnya.
Dalam perspektif hadits, Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagaimana sabdanya:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim).
Di tengah jejak historis Trowulan sebagai pusat peradaban masa lampau, kegiatan ini menjadi simbol pertemuan nilai-nilai luhur, spiritualitas, dan semangat kebangsaan masa kini.
Suasana khidmat dan penuh makna mewarnai jalannya acara, menghadirkan harapan akan terbangunnya harmoni, persaudaraan, dan kekuatan moral di tengah dinamika zaman.
Halal Bihalal dan Mimbar Seribu Tokoh ini pun diharapkan menjadi pengikat batin lintas generasi dan lintas wilayah, sekaligus peneguh bahwa nilai memaafkan, persaudaraan, dan kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun bangsa yang beradab.
Acara ini juga memperingati hari Kemenangan hari Raya Idhul fitri 1 Syawal 1447 H" dan Lebaran ketupat,
Lebaran adalah momen yang sangat spesial untuk menjalin silahtuhrahim,
Lebaran Ketupat, atau Bakda Kupat dalam budaya Jawa, bermakna "mengaku lepat" (mengakui kesalahan) dan mempererat silaturahim. Ini merupakan simbol kebersamaan dan rasa syukur, di mana warga saling berkunjung dan memaafkan.
Lebaran Ketupat bukan sekadar jamuan makan, melainkan momen penting untuk memperkuat silaturahmi, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Tuhan YME, yang telah menjadi bagian integral dari budaya Islam di Indonesia,(Asrul)
Via
Surya_tribun.com