Nilai-nilai Spiritual Puasa Pada Bulan Ramadhan Serta Perayaan Hari Raya Idhul Fitri
Jacob Ereste :
*Nilai-nilai Spiritual Puasa Pada Bulan Ramadhan Serta Perayaan Hari Raya Idhul Fitri*
Kemampuan untuk menikmati puasa pada bulan ramadhan serta merayakan Hari Raya Idhul Fitri dengan indah penuh kegembiraan, merupakan bagian dari kemampuan dan kecerdasan spiritual. Apalagi dalam kondisi yang serba darurat secara ekonomi maupun politik serta budaya secara umumnya yang serba memprihatinkan. Karena itu, kalau cuma sekedar merayakan hari raya tak sempat menikmati kudapan khas opor ayam rendang ketupat atau gulai rendang maupun menu sandingan lain yang tak kalah lezat, dapatlah tetap diterima dengan riang gembira. Sebab kesulitan ekonomi yang terasa semakin mencekik untuk sekedar memenuhi keperluan sehari-hari memang sedang dalam kondisi yang memprihatinkan.
Itulah sebetulnya bagian dari capaian laku spiritual untuk senantiasa bersikap -- dan juga bersifat sederhana dan bersahaja -- karena ketergantungan pada hal-hal yang berbentuk material -- bisa disublimasikan kepada segala bentuk spiritual yang tidak kasat mata. Jika tidak, maka upaya untuk melakoni laku spiritual perlu dikaji ulang. Minimal, laku spiritual yang sudah dilakukan patut dievaluasi ulang. Setidaknya, ada hal-hal dari laku spiritual yang sudah ditekuni dan diimplementasikan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari perlu diperbaiki dan disempurnakan.
Itulah sebabnya, esensi dari laku spiritual yang sesungguhnya bukanlah capaian yang bisa diraih dan tergamit, tetapi proses dari laku spiritual itu sendiri yang penting untuk dirasakan dan dinikmati sebagai bagian dari harmoni kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga dalam proses menjadi -- seperti dalam capaian nilai seni -- merupakan capaian yang harus diperoleh, sehingga esensi dari laku spiritual itu sendiri menjadi kenikmatan yang membahagiakan. Seperti nikmat puasa yang perlu diperoleh, bukan sekedar untuk mempunyai kemampuan menahan lapar -- hawa nafsu dan sifat dan sikap tamak semata -- tetapi juga kemampuan untuk menikmati rasa lapar itu sebagai bagian dari pengalaman spiritual yang jauh lebih memperkaya khazanah bathin agar tetap memiliki vibrasi getar dakam harmoni bathin dan jiwa agar tidak membeku dan krontang.
Nilai-nilai sakral dari puasa pada bulan Ramadhan yang disampul dengan perayaan lebaran yang indah, itulah yang disimbolkan dari bentuk material baju baru, menu baru dan semangat baru untuk menyongsong tata kehidupan yang lebih fitri -- sebagai ungkapan dari makna kemenangan -- kembali kepada fitrah kemuliaan manusia yang diperoleh setiap manusia dari Sang Pencipta. Sehingga manusia -- sebagai bagian dari makhluk ciotaan-Nya -- yang pantas dan patut
disebut sebagai khalifatullah -- wakil Tuhan di muka bumi.
Dalam konteks ini juga, pemaknaan dari rahmatan lil alamin itu dapat dipahami sebagai anugrah yang menyertai kesempurnaan manusia -- sebagai makhluk ciptaan Tuhan -- yang nyata memiliki nilai-nilai kesempurnaan dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Atas dasar ini, kemuliaan manusia dihadapkan Tuhan tiada sedikitpun perlu diragukan pemegang amanah yang harus dan wajib menjaga keselarasan serta keharmonisan hidup dalam tatanan dunia yang indah dan lestari. Atas dasar inilah, perayaan hari raya lebaran layak dinikmati dengan kegembiraan hati, sambil menyantap sajian menu seadanya, meski tak harus mewah dan mahal. Maka itu yang terpenting dari laku spiritual adalah cara menikmati hidup dan kehidupan dengan laku dan sikap yang ugahari.(*Red)
Cirendeu, 22 Maret 2026