Siswa di Kota Malang Terima MBG Prasmanan
![]() |
| MBG di Kota Malang disajikan prasamanan. |
MALANG, SuryaTribun.Com - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), Unit Gadang 2 melakukan terobosan baru dalam penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menu MBG disajikan dengan konsep buffet atau prasmanan dan diuji coba di MIN 2 Malang.
Pantauan awak media di lokasi, para siswa MIN 2 Malang secara bergiliran mengambil menu MBG secara mandiri.
Ini merupakan konsep prasmanan pertama dalam distribusi menu MBG di wilayah Kota Malang.
Langkah ini diambil sebagai bentuk uji coba sekaligus merespons arahan pusat untuk menyesuaikan momen silaturahmi pasca Lebaran di lingkungan sekolah.
Distribusi menu MBG prasmanan ini juga dipantau langsung Walikota Malang, Wahyu Hidayat bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Suwarjana dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif.
Kepala SPPG Kota Malang Unit Gadang 2, Ita Herlistyawati mengatakan, inisiatif ini bermula dari arahan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) melalui pertemuan daring.
Pihaknya memanfaatkan momentum acara halalbihalal di sekolah untuk melihat sejauh mana efektivitas pelayanan prasmanan dibandingkan dengan pembagian kotak makan reguler.
Melalui metode ini, para siswa dan tenaga pendidik tidak lagi menerima wadah makanan yang sudah terisi, melainkan mengambil sendiri hidangan yang telah disediakan di meja-meja panjang.
"Jadi ini uji coba pertama kali kami. diharapkan kalau memang efektif, ke depannya kemungkinan bakal ada prasmanan," ujar Ita kepada wartawan, Kamis, 02 April 2026.
Untuk menu yang disajikan kali ini pun kental dengan nuansa hari raya.
Sebanyak 1.300 porsi yang disiapkan bagi siswa dan tenaga kependidikan terdiri dari ayam, krecek, sayur labu siam dengan tempe, telur kecap, hingga hidangan penutup berupa es buah.
Secara teknis, pihak sekolah membagi alur menjadi lima barisan atau section guna memecah antrean agar anak-anak dapat berkeliling mengambil menu secara tertib dan merata.
Meski konsepnya membebaskan siswa untuk mengambil sendiri, Ita menegaskan aspek pengawasan tetap menjadi prioritas utama menjaga porsi tetap seimbang.
Tim pemorsian dari SPPG diterjunkan langsung di setiap titik pengambilan makanan untuk memantau jalannya distribusi serta mengarahkan siswa agar mengambil sesuai kebutuhan gizi yang telah ditentukan.
Hal ini dilakukan demi mengantisipasi adanya pengambilan berlebih yang bisa menyebabkan ketidakmerataan.
"Untuk ini sepertinya mengambil sendiri, tapi diawasi dengan tim pemorsian karena kan prasmanan. Kita dari tim SPPG juga ada pengawasnya, jadi ada dari tim pemorsian kami yang mengawasi jalannya anak-anak itu dalam pengambilannya," tuturnya.
Ita juga mengakui adanya tantangan logistik yang cukup signifikan dalam penerapan konsep prasmanan ini.
Berbeda dengan sistem reguler yang menggunakan wadah satuan (ompreng) sehingga lebih praktis saat didistribusikan, sistem prasmanan menuntut persiapan transportasi yang lebih kompleks karena harus membawa wadah-wadah besar ke lokasi sekolah.
Evaluasi menyeluruh terhadap kendala distribusi dan efektivitas waktu akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan apakah pola prasmanan ini akan dilanjutkan atau diperbaiki untuk pelaksanaan berikutnya.
"Tapi kalau memang masih perlu ada perbaikan lagi atau ada kendala apa pun itu, kita cari solusi bareng-bareng," pungkasnya. (*/red)
