Ini Empat Jurnalis yang Berperan dalam Perjuangan Surabaya 1945
![]() |
| Foto ilustrasi. |
SURABAYA, Surya-Tribun.Com - Surabaya menjadi saksi perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 10 November 1945.
Pertempuran besar pecah setelah pasukan Inggris mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata, tetapi juga melalui penyebaran informasi dan dokumentasi perjuangan.
Sejumlah tokoh turut mengambil peran melalui dunia jurnalistik, mulai dari menyebarkan berita, mengobarkan semangat perlawanan melalui radio, hingga mengabadikan peristiwa bersejarah.
Ada sejumlah jurnalis yang turut berkontribusi dalam perjuangan rakyat Surabaya pada 1945.
Mereka memiliki peran berbeda, mulai dari menyebarkan kabar kemerdekaan hingga memperkenalkan perjuangan Indonesia kepada dunia internasional.
Bung Tomo
Bung Tomo atau Sutomo merupakan tokoh perjuangan yang mengawali kiprahnya melalui dunia jurnalistik.
Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, ia pernah menjadi wartawan lepas Harian Soeara Oemoem, redaktur mingguan Pembela Rakyat pada 1938, serta penulis dan redaktur harian berbahasa Jawa, Ekspres, pada 1939.
Pengalamannya di dunia pers membentuk kemampuan komunikasi yang kemudian berperan penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Saat Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo memanfaatkan siaran radio pemberontakan untuk membangkitkan semangat rakyat Surabaya melawan pasukan Sekutu.
Seruannya yang terkenal, "Allahu Akbar! Saudara-saudara, jangan mundur selangkah pun! Merdeka atau mati!", menjadi simbol keberanian dan perlawanan arek-arek Suroboyo.
Atas jasa-jasanya, Bung Tomo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2008.
R M Bintarti
R M Bintarti merupakan salah satu tokoh pers Indonesia yang turut berkontribusi dalam penyebaran informasi pada masa perjuangan kemerdekaan.
Karier jurnalistiknya dimulai setelah berguru kepada R M Tirtohadisoerjo, pemimpin majalah Medan Prijaji, di Bandung.
Pada 1923, Bintarti menjadi editor surat kabar Sin Jit Po di Surabaya bersama Oei Kie Hok.
Pada tahun yang sama, ia juga menerbitkan harian Kemadjoean Hindia bersama Raden Pandji Soeroso.
Kiprahnya berlanjut sebagai wartawan senior hingga dipercaya menjadi pemimpin redaksi Pewarta Soerabaja pada 1925.
Menjelang kemerdekaan, Bintarti bergabung dengan Kantor Berita Indonesia yang didirikan di Surabaya pada awal Agustus 1945 bersama sejumlah mantan wartawan dan redaktur kantor berita Domei.
Ketika Pertempuran 10 November 1945 pecah, kantor berita tersebut terpaksa mengungsi ke Mojokerto. Meski demikian, Bintarti bersama Wiwiek Hidayat tetap menjalankan kegiatan jurnalistik LKBN Antara.
Perannya menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui kerja jurnalistik untuk menjaga penyebaran informasi kepada masyarakat.
Abdul Wahab Saleh
Abdul Wahab Saleh merupakan wartawan sekaligus fotografer yang berperan dalam mendokumentasikan perjuangan rakyat Surabaya pada masa kemerdekaan.
Ia pernah bekerja sebagai jurnalis di kantor berita Domei cabang Surabaya pada masa pendudukan Jepang.
Pengalaman tersebut mengasah kemampuannya dalam jurnalistik dan fotografi. Setelah Indonesia merdeka, kantor berita Domei berganti menjadi Antara.
Ia kemudian turut mengabadikan berbagai peristiwa penting di Surabaya, termasuk detik-detik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) pada 19 September 1945.
Abdul Wahab Saleh juga mendokumentasikan perjuangan rakyat selama perang gerilya.
Hasil dokumentasi Abdul Wahab Saleh menjadi bagian penting dari rekam jejak sejarah perjuangan kemerdekaan di Surabaya.
Melalui foto-fotonya, berbagai peristiwa bersejarah dapat dikenang dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
K'tut Tantri
K'tut Tantri memiliki peran penting dalam memperkenalkan perjuangan kemerdekaan kepada dunia melalui siaran radio.
Perempuan bernama asli Muriel Stuart Walker ini lahir di Glasgow, Skotlandia, pada 19 Februari 1898.
Meski berasal dari luar negeri, ia memilih mendukung perjuangan rakyat Indonesia bersama Bung Tomo di Surabaya.
Mengutip Kemendikdasmen, saat Pertempuran 10 November 1945, K'tut Tantri menggunakan nama siaran Soerabaja Sue untuk menyampaikan kabar perjuangan melalui radio Voice of Free Indonesia.
Siaran berbahasa Inggris tersebut ditujukan kepada masyarakat internasional agar mengetahui perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan.
Atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Nararya pada 1998.
Kisah perjuangannya juga dituangkan dalam autobiografi berjudul Revolt in Paradise. K'tut Tantri wafat di Sydney, Australia, pada 27 Juli 1997.
Keempat tokoh tersebut menunjukkan bahwa dunia jurnalistik turut menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Melalui tulisan, siaran radio, dan foto, mereka membantu menyebarkan informasi sekaligus merekam peristiwa penting dalam sejarah perjuangan rakyat Surabaya.
Sumber: detik.com
